Sutejo *
Solopos, 24 Okt 1997
Kemerdekaan kreativitas untuk tidak berpihak, tidak terintervensi,
dan tidak berorientasi berbagai madzab estetika, barangkali itulah
tuntutan mendesak dari kehidupan kesenian kita. Tidak berpihak,
mengamanatkan agar kesenian tidak berkubu, tidak berkotak-kotak.
Tanpa kemerdekaan kreativitas, sulit kita akan membayangkan karya
yang bersih akan pamrih, tapi hanya akan melahirkan karya-karya yang
banci, yang mandul dan merengek-rengek. Kalaupun ada kebebasan dan
keterbukaan dari iklim makro, kini harus diakui, itu cuma sekadar lipstik. Madzab akan melahirkan seniman-seniman yang mbebek, kerdil, dan mundhuk-mundhuk.
Ini soalnya, saya sempat tercengang ketika mengamati kehidupan sastra
kita yang centang perenang. Tanpa sosok pribadi. Perhelatan sastra,
akhirnya hanyalah perjuangan fanatisme komuna tanpa jati diri. Isu RSP dan pernyatan Mei
adalah sampel mutakhir. RSP tak lebih dari perjuangan kepentingan Beno
Siang Pamungkas dan Kusprihyanto Namma, karena, kita paham RSP tidaklah
menawarkan apa-apa. Tidak ada sesuatu yang baru. Harus diakui, bahwa
panji mereka bukanlah Revitalisasi Sastra Pedalaman, tapi Revitalisasi Sastrawan Pedalaman.
Padahal, diskursus berkesenian, bukan untuk mencari pengakuan dan
kesepakatan, tapi menciptakan karya. Toh, nantinya, karya itu sendiri
yang akan menawarkan esthetic values, yang menawarkan pembaca menjadi cultured man tertentu.
Kreativitas
Dua tahun lalu di harian salah satu koran Jakarta pernah terjadi polemik tentang seni dan kebudayaan
(kreativitas budaya) yang melibatkan nama-nama seperti Damardjati
Supajar, Danarto, Arief Budiman hingga Beni Setia. Tampaknya, yang
paling mengena adalah proyeksi Danarto, Arief Budiman, dan ide sastra
tak senonoh Beni Setia. Kejujuran ide Danarto akan kebudayaan ‘’cakar
ayam’’, konsep hidup kita yang memayu hayuning bawono, persis,
paralel dengan etika keselarasan dan kebijaksanaan orang Jawa yang empuk
terpenetrasi oleh budaya global, budaya ‘’cakar ayam’’.
Untuk itu, menjadi penting untuk menawarkan perlunya semacam
‘’desentralisasi sastra’’ macam idenya Arief Budiman. Yang melontarkan
karya hasil kebudayaan yang pluralistik. Meski itu dari kacamata Beni
Setia, sama artinya dengan wishful tingking.
Tapi memang, pluralistiknya kebudayaan, pluralistik estetika, dan
pluralistik komuna seniman kita melontarkan kejujuran kreatif? Bukan
fotokopi, bukan pembebekan, dan bukan kolusi seperti yang dipraktikkan
olek praktisi ekonomi.
Keselarasan
Bagi saya, semua itu terjadi karena etika keselarasan, yang sudah menjadi karakter kebudayaan nasional, Jawanisasi mental.
Sehingga etika keselarasan, yang semula adalah etika kehidupan orang
Jawa, lama kelamaan menjadi semacam ‘’jati diri’’ nasional lewat
tangan-tangan kekuasaan. Kolusi dan referensi misalnya, yang semula
hanya mungkin tumbuh dalam birokrasi yang berparner ideal kekuasaan,
kini sudah meracuni dunia berkesenian: pencocokan, pembebekan, kata
pengantar, sampai kasak-kusuk seniman berbagai media massa. Kebebasan
kreatif? Bukan. Indikasi erosi kebudayaan dan kesenian kita.
Etika keselarasan, dalam perkembangannya, oleh beberapa seniman
tampaknya semakin dipaksa-paksa. Transformasi konsepsi estetika Barat,
yang oleh beberapa kritisi (untuk tidak menyebut beberapa nama), sering
diselaras-laraskan dengan estetika kita. Paradigma ini, tentu akan
melahirkan pula seniman-seniman yang sering berkacamata semu, kacamata
yang seakan akan kabur tanpa bentuk.
Kalau diskursus ‘’seniman-seniman’’, ‘’seniman gagasan Barat’’
bisa melahirkan seniman tak berkarakter, maka paling banci adalah kalau
filosofi keselarasan itu sudah diidap seniman yang kawin dengan
kekuasaan. Karenanya, kita perlu permasalahan yang kontras, untuk bisa
menyalurkan pendapat, kata Arief Budiman. Sehingga, bisa melahirkan pro
dan kontra, macam etos kreatif Manikebu.
Sampai saat ini, inilah yang menarik. Ketika kesenian harus
mengenakan baju keterbukaan, di situ pulalah harus terantuk dan
terkantuk-kantuk. Sebab, seniman dituntut mengenakan keterbukaan, tapi
yang selaras, yang sesuai dengan etika keselarasan nasional.
Jika akhirnya, harus tidak selaras, maka terpaksa harus dipangkas, diamputasi, dan dicekal, atau bertengkar dengan aparat security. Contoh yang belum hapus dari ingatan kita adalah kasus Pantun-pantunan Indonesia-nya Emha dan Golf Untuk Rakyat-nya Darmanto Yatman, yang terjadi di beberapa daerah. Kemudian yang terakhir Arjuna Mencuri BH-nya Murtijono dan Sepak Bola Liga Kuning-nya Gojek Js.
Mengapa? Sebab anasir ‘’ideologis’’ dan politis, itu jelas, berbeda
tempat berdiri dan kepentingannya. Sehingga karya macam itu, dalam
bahasa Stendhal, ibarat letusan pistol di tengah pagelaran konser.
Fenomena demikian dari ‘’logika keselarasan’’ sebenarnya wajar.
Karena tidak selaras! Menjadi semacam ‘’ancaman’’ bagi pemegang
kekuasaan. Dan, seniman sendiri, juga ‘’logis’’, karena mereka
mnenyuarakan kebebasan, ‘ideologinya’ sendiri. Max Adereth, menyebutkan dengan literature angangge.
Karena konflik ideologi sosial kemasyarakatanlah, bertendensi politis,
seniman harus bertindak. Karena seniman tentu harus berperan sebagai man of action.
Lantas?
Lantas, kemanakah kita harus mencari oase berkesenian? Banyak ide
memang sudah dilontarkan. Tapi semuanya seperti dalam bahasa Beni Setia,
hanya melahirkan kolam dengan sekian puluh arca yang menyemburkan air
mancur sendiri-sendiri. Mungkin hati nurani dan orisinalitas kreatif,
yang kontrastif, bukan nyala api yang menjilat-jilat. Bukan
fotokopi, bukan pula karya ‘’kompromis’’ karena tergenggam oleh
patung-patung kekuasaan (seniman dan birokrat).
*) Sutejo atau S. Tedjo Kusumo, penulis adalah dosen Kopertis dan tinggal di Ponorogo, Jawa Timur.
Dijumput dari: http://sastra-indonesia.com/2012/10/seni-sastra-antara-lipstik-dan-orisinalitas/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
Afifah W. Zhafira
Afifah Wahda Tyas Pramudita
Andry Deblenk
Anugerah Ronggowarsito
Apresiasi Prosa (Mencari Nilai. Memahami Fiksi)
Apresiasi Puisi (Memahami Isi Mengolah Hati)
Berita
Budaya
Cara Mudah PTK (Mencari Akar Sukses Belajar)
Catatan
Cerpen
Cover Buku
Djoko Saryono
Esai
Filsafat Ilmu
Gatra
Gerakan Literasi Nasional
Gufron Ali Ibrahim
Happy Susanto
Inspiring Writer (Rahasia Sukses Para Penulis Inspirasi untuk Calon Penulis)
Jurnalistik 2 (Kiat Menulis Resensi. Feature dan Komoditas Lainnya)
Jurnalistik Plus 1 (Kiat Merentas Media dengan Ceria)
Kajian Prosa (Kiat Menyisir Dunia Prosa)
Kajian Puisi (Teori dan Aplikasinya)
Karya Darma
Kasnadi
Kliping
Kompas
Literasi
Literasi Budaya
Majalah Dinamika PGRI
Makam Sunan Drajat
Masuki M. Astro
Memasak
Menemukan Profesi dengan Mahir Berbahasa
Menulis Kreatif (Kiat Cepat Menulis Puisi dan Cerpen)
Merdeka
Mesin Ketik
Metafora Kemahiran Menulis
Nur Wachid
Nurel Javissyarqi
Obrolan
Orasi Ilmiah
Ponorogo Pos
Prof Dr Soediro Satoto
Puisi
Radar Madiun
Resensi
S. Tedjo Kusumo
SMA 1 Badegan Ponorogo
STKIP PGRI Ponorogo
Sajak
Sapta Arif Nurwahyudin
Sekolah Literasi Gratis
Senarai Motivasi
Senarai Pemikiran Sutejo (Menyisir Untaian Kata. Menemukan Dawai Makna)
Seputar Ponorogo
Sidik Sunaryo
Soediro Satoto
Solopos
Sosiologi Sastra (Menguak Dimensionalitas Sosial dalam Sastra)
Spectrum Center
Stilistika (Teori. Aplikasi dan Alternatif Pembelajarannya)
Suara Karya
Sugiyanto
Sujarwoko
Sumarlam
SuperCamp HMP 2017
Surabaya Post
Surya
Sutejo
Suwardi Endraswara
Swadesi
Teknik Kreativitas Pembelajaran
Tengsoe Tjahjono
Tri Andhi S
Wisata
Workshop Entrepreneurship
Workshop Essay Budaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar