Kamis, 13 Desember 2012

Pemikiran Santri Kota

Judul Buku: Gejolak Santri Kota Aktivis Muda NU Merambah Jalan Lain
Penulis : Mochamad Sodik
Penerbit: Tiara Wacana Yogyakarta
Cetakan I: Agustus 2000
Tebal: (xv + 169) halaman
Peresensi: Sutejo
Kompas,  17 Nov 2000

ANAK muda bagi suatu bangsa adalah harapan. Anak muda penuh kreativitas, inovasi, daya kritis, dan aneka karakter dinamis lainnya; ibarat permata perubahan. Dinamika anak muda karenanya, adalah potret indah sebuah hari esok. Begitu membaca buku Gejolak Santri Kota, sampailah pada progresif  kita pada hal macam itu.

Buku ini, merupakan hasil tesis magister Mochamad Sodik di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yang mendeskripsikan gerakan pemikiran kelompok anak muda di lingkaran Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), wadah anak muda NU yang progresif, penuh kritik dan “pergolakan pemikiran”.

Pola aktivitas anak muda ini mengingatkan kita akan Lingkaran Diskusi “Limited Group” tahun 1967-1972 yang melibatkan Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Mukti Ali (muda). Bedanya, “Limited Group” lahir dari rahim Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sedangkan LKiS lahir dari rahim Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Boleh jadi, keduanya menjadi semacam sayap perubahan dari sebuah “ormas” Islam.

“Liberalisasi” pemikiran anak muda NU, tampaknya diilhami oleh refleksi dan aktivitas KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gerakan nonpolitik NU lewat tangan Gus Dur dengan Khitah tahun 1926-nya, menjadikan gerakan nonpolitik Angkatan Muda NU (AMNU)/LKiS ke dalam “pola” gerakan yang “sama”.

Persemaian intelektualnya terbentuk oleh gesekan dan kajian-kajian inklusif berkaitan dengan tema-tema keagamaan, ilmu sosial, nilai-nilai universal kemanusiaan yang lebih merujuk pada “aras bawah” kehidupan. Dan, hal ini tentu berbeda dengan aktivitas NU yang lebih merujuk pada “aras atas” (narasi tentang dosa, surga-neraka, dan akhirat).

***

LINTAS komunitas, tampaknya, menjadikan komunitas anak muda tersebut menjadi inklusif. Mereka bebas “bergaul” dan “berkaji” dengan cendekiawan non-Muslim macam Romo JB Banawiratna, kemudian Th Sumartana, Emanuel Subangun, Ignas Kleden, dan sebagainya. Terlebih juga dengan cendekiawan di lingkungan Muslim semacam Abdurrahman Wahid, Mohamad Sobary, Said Agil Siradj, Mohtar Mas’ud, dan lain-lain.

Anak muda ini pun tak alergi “bergesek gagas” dengan tokoh asing macam Robert W Hefner, Bruinessen, Andree Feilard, Greg Barton, Takashi Shiraishi, Paul Stange, Gerry van Klinken, Herbert Feith, Greg Fealy, Harold Crouch, Mona Abaza, Nelly van Dorn, dan Nasr Abu Zayd. Aktivitas anak muda ini semakin progresif, menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga nonpemerintah macam LBH, P3M, Lakpesdam NU, LP3ES, YLBHI, AJI, PKGMNU, dan kelompok kajian “164”.

***

LEWAT aktivitas anak muda ini, sebuah “otokritik tajam” lahir, berkaitan dengan persoalan “Aswaja”. Ketika NU berpegang pada madzhab, berarti hukum Islam (fikih) logikanya harus berpegang pada empat mujtahid (Maliki, Hambali, Syafi’i, dan Hanafi).

Kenyataannya, NU lebih condong ke Syafi’i sehingga NU sering dicap sebagai fanatisme Syafi’i (hlm. 86). Padahal, konsep keberpihakan pada keempat mazhab ini, dilandasi pemikiran bahwa secara teoritis NU dapat memiliki keleluasaan menerapkan kebijakan jami’iyahnya untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul, sehingga tidak kaku terhadap berbagai alternatif dari mazhab yang ada.

Bermazhab, tulisnya, bukanlah menelan mentah-mentah pendapat mujtahid, tetapi terlebih dahulu melalui proses kajian, meneliti, dan bahkan mempertimbangkan dengan kondisi setempat. Demikian juga, dengan aktivitas istinbat. Istinbat, yang merujuk pada ijtihad mutlak di NU boleh dibilang “asing”, yang terjadi adalah kerja bahtzul mazail yang kemudian melahirkan ijma’.

Kritik baru terhadap taklid, misalnya, tulis Mochamad Sodik, mengedepankan bagaimana taklid “seharusnya” yang diartikan menjadi “mengikuti manhaf” (metode), yang kemudian populer dengan istilah manhajul-fikri (metode berpikir)-nya. Hal demikian, tambahnya, akan memungkinkan untuk lebih fleksibel.
Pada tahun 1984, cara pandang demikian kental dikritisi oleh Gus Dur dan Masdar F Mas’udi; yang kemudian dapat diterima pada Munas NU di Lampung pada tahun 1992.

Oleh karena itulah, cara taklid baru ini yang menjadi cara pikir baru yang boleh jadi akan memberikan warna pada perkembangan NU ke depan. Formulasi baru inilah, akhirnya mengisyaratkan sekian parameter: (i) selalu diupayakan interpretasi ulang dalam mengkaji teks-teks fikih untuk mencari konteks baru, (ii) makna bermazhab secara tekstual (mazhab qault) ke bermazhab secara metodologis (mazhab manhaji); (iii) verifikasi mendasar mana ajaran yang pokok (uslul) dan mana yang cabang (furu’); (iv) fikih dihadirkan sebagai etika sosial, bukan sebagai hukum positif negara, dan (v) pengenalan metodologi pemikiran filosofis terutama dalam masalah budaya dan sosial (hlm. 100).

***

BUKU yang membicarakan aktivitas anak muda seperti itu boleh dibilang relatif langka. Terlebih jika menyangkut studi dan kajian progresifnya. Untuk itulah, Gejolak Santri Kota ini menjadi menarik untuk dikritisi. Terlebih, kalangan NU yang haus akan perubahan.

Sebagai sebuah buku yang mengkritisi jejak aktivitas anak muda NU (semacam runutan antropologis) dan dihasilkan melalui “proses ilmiah” di pascasarjana UGM; maka pantas menjadi wacana dalam “tradisi pemikiran” kalangan NU utamanya, dan pada generasi muda Indonesia umumnya.

Dalam sampul buku itu tampaknya sepasang kelompen (bakiak) tercecer dalam posisi menuju ke arah pembacanya. Rupanya sang pemilik sudah melupakan alas kaki itu, atau memang sudah ganti alas kaki, karena jalan lain tidak mungkin ditapaki dengan alas kaki tersebut.

Akhirnya, di sinilah urgensi buku kecil ini mengambil peran: pemberontakan pemikiran dan reinterpretasi ulang terhadap kemapanan pemikiran NU. Gerakan dan pembaharuan dengan representasi AMNU LKIS menawarkan semacam pemikiran “individualisme” dalam pengertian Berger dan Luckman, yakni individual autonomy, atau yang disebut oleh Leonard Binder dengan Islamic Liberalisme (hlm. 119).

Buku ini menjadi semacam otokritik bagi NU, dan sekaligus tempat bersemai harap pada generasi muda NU yang lebih berdaya di masa datang. Karena itu, siapa pun yang berminat mengetahui gerak dinamis anak-anak muda NU, sudah sepantasnya tidak melewatkan buku ini.

*) Sutedjo, Ketua Umum ISNU Cabang Ponorogo/mahasiswa pascasarjana UNS Surakarta.
Dijumput dari:  http://sastra-indonesia.com/2012/12/pemikiran-santri-kota/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

Afifah W. Zhafira Afifah Wahda Tyas Pramudita Andry Deblenk Anugerah Ronggowarsito Apresiasi Prosa (Mencari Nilai. Memahami Fiksi) Apresiasi Puisi (Memahami Isi Mengolah Hati) Berita Budaya Cara Mudah PTK (Mencari Akar Sukses Belajar) Catatan Cerpen Cover Buku Djoko Saryono Esai Filsafat Ilmu Gatra Gerakan Literasi Nasional Gufron Ali Ibrahim Happy Susanto Inspiring Writer (Rahasia Sukses Para Penulis Inspirasi untuk Calon Penulis) Jurnalistik 2 (Kiat Menulis Resensi. Feature dan Komoditas Lainnya) Jurnalistik Plus 1 (Kiat Merentas Media dengan Ceria) Kajian Prosa (Kiat Menyisir Dunia Prosa) Kajian Puisi (Teori dan Aplikasinya) Karya Darma Kasnadi Kliping Kompas Literasi Literasi Budaya Majalah Dinamika PGRI Makam Sunan Drajat Masuki M. Astro Memasak Menemukan Profesi dengan Mahir Berbahasa Menulis Kreatif (Kiat Cepat Menulis Puisi dan Cerpen) Merdeka Mesin Ketik Metafora Kemahiran Menulis Nur Wachid Nurel Javissyarqi Obrolan Orasi Ilmiah Ponorogo Pos Prof Dr Soediro Satoto Puisi Radar Madiun Resensi S. Tedjo Kusumo SMA 1 Badegan Ponorogo STKIP PGRI Ponorogo Sajak Sapta Arif Nurwahyudin Sekolah Literasi Gratis Senarai Motivasi Senarai Pemikiran Sutejo (Menyisir Untaian Kata. Menemukan Dawai Makna) Seputar Ponorogo Sidik Sunaryo Soediro Satoto Solopos Sosiologi Sastra (Menguak Dimensionalitas Sosial dalam Sastra) Spectrum Center Stilistika (Teori. Aplikasi dan Alternatif Pembelajarannya) Suara Karya Sugiyanto Sujarwoko Sumarlam SuperCamp HMP 2017 Surabaya Post Surya Sutejo Suwardi Endraswara Swadesi Teknik Kreativitas Pembelajaran Tengsoe Tjahjono Tri Andhi S Wisata Workshop Entrepreneurship Workshop Essay Budaya

Sutejo, Sang Motivator

Maman S Mahayana, Sutejo, Kasnadi di Jakarta

Sutejo & Hamsad Rangkuti di Jakarta

Sutejo dan Danarto di Jakarta

Maman S Mahayana di STKIP PGRI Ponorogo