Judul Buku: Gejolak Santri Kota Aktivis Muda NU Merambah Jalan Lain
Penulis : Mochamad Sodik
Penerbit: Tiara Wacana Yogyakarta
Cetakan I: Agustus 2000
Tebal: (xv + 169) halaman
Peresensi: Sutejo
Kompas, 17 Nov 2000
ANAK muda bagi suatu bangsa adalah harapan. Anak muda penuh
kreativitas, inovasi, daya kritis, dan aneka karakter dinamis lainnya;
ibarat permata perubahan. Dinamika anak muda karenanya, adalah potret
indah sebuah hari esok. Begitu membaca buku Gejolak Santri Kota, sampailah pada progresif kita pada hal macam itu.
Buku ini, merupakan hasil tesis magister Mochamad Sodik di
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yang mendeskripsikan gerakan
pemikiran kelompok anak muda di lingkaran Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), wadah anak muda NU yang progresif, penuh kritik dan “pergolakan pemikiran”.
Pola aktivitas anak muda ini mengingatkan kita akan Lingkaran Diskusi
“Limited Group” tahun 1967-1972 yang melibatkan Dawam Rahardjo, Djohan
Effendi, Ahmad Wahib, dan Mukti Ali (muda). Bedanya, “Limited Group”
lahir dari rahim Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sedangkan LKiS lahir
dari rahim Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Boleh jadi,
keduanya menjadi semacam sayap perubahan dari sebuah “ormas” Islam.
“Liberalisasi” pemikiran anak muda NU, tampaknya diilhami oleh
refleksi dan aktivitas KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gerakan
nonpolitik NU lewat tangan Gus Dur dengan Khitah tahun 1926-nya,
menjadikan gerakan nonpolitik Angkatan Muda NU (AMNU)/LKiS ke dalam
“pola” gerakan yang “sama”.
Persemaian intelektualnya terbentuk oleh gesekan dan kajian-kajian
inklusif berkaitan dengan tema-tema keagamaan, ilmu sosial, nilai-nilai
universal kemanusiaan yang lebih merujuk pada “aras bawah” kehidupan.
Dan, hal ini tentu berbeda dengan aktivitas NU yang lebih merujuk pada
“aras atas” (narasi tentang dosa, surga-neraka, dan akhirat).
***
LINTAS komunitas, tampaknya, menjadikan komunitas anak muda tersebut
menjadi inklusif. Mereka bebas “bergaul” dan “berkaji” dengan
cendekiawan non-Muslim macam Romo JB Banawiratna, kemudian Th Sumartana,
Emanuel Subangun, Ignas Kleden, dan sebagainya. Terlebih juga dengan
cendekiawan di lingkungan Muslim semacam Abdurrahman Wahid, Mohamad
Sobary, Said Agil Siradj, Mohtar Mas’ud, dan lain-lain.
Anak muda ini pun tak alergi “bergesek gagas” dengan tokoh asing
macam Robert W Hefner, Bruinessen, Andree Feilard, Greg Barton, Takashi
Shiraishi, Paul Stange, Gerry van Klinken, Herbert Feith, Greg Fealy,
Harold Crouch, Mona Abaza, Nelly van Dorn, dan Nasr Abu Zayd. Aktivitas
anak muda ini semakin progresif, menjalin hubungan dengan
lembaga-lembaga nonpemerintah macam LBH, P3M, Lakpesdam NU, LP3ES,
YLBHI, AJI, PKGMNU, dan kelompok kajian “164”.
***
LEWAT aktivitas anak muda ini, sebuah “otokritik tajam” lahir,
berkaitan dengan persoalan “Aswaja”. Ketika NU berpegang pada madzhab,
berarti hukum Islam (fikih) logikanya harus berpegang pada empat
mujtahid (Maliki, Hambali, Syafi’i, dan Hanafi).
Kenyataannya, NU lebih condong ke Syafi’i sehingga NU sering dicap
sebagai fanatisme Syafi’i (hlm. 86). Padahal, konsep keberpihakan pada
keempat mazhab ini, dilandasi pemikiran bahwa secara teoritis NU dapat
memiliki keleluasaan menerapkan kebijakan jami’iyahnya untuk mengatasi
masalah-masalah yang timbul, sehingga tidak kaku terhadap berbagai
alternatif dari mazhab yang ada.
Bermazhab, tulisnya, bukanlah menelan mentah-mentah pendapat
mujtahid, tetapi terlebih dahulu melalui proses kajian, meneliti, dan
bahkan mempertimbangkan dengan kondisi setempat. Demikian juga, dengan
aktivitas istinbat. Istinbat, yang merujuk pada ijtihad mutlak di NU boleh dibilang “asing”, yang terjadi adalah kerja bahtzul mazail yang kemudian melahirkan ijma’.
Kritik baru terhadap taklid, misalnya, tulis Mochamad Sodik,
mengedepankan bagaimana taklid “seharusnya” yang diartikan menjadi
“mengikuti manhaf” (metode), yang kemudian populer dengan istilah manhajul-fikri (metode berpikir)-nya. Hal demikian, tambahnya, akan memungkinkan untuk lebih fleksibel.
Pada tahun 1984, cara pandang demikian kental dikritisi oleh Gus Dur
dan Masdar F Mas’udi; yang kemudian dapat diterima pada Munas NU di
Lampung pada tahun 1992.
Oleh karena itulah, cara taklid baru ini yang menjadi cara pikir baru
yang boleh jadi akan memberikan warna pada perkembangan NU ke depan.
Formulasi baru inilah, akhirnya mengisyaratkan sekian parameter: (i)
selalu diupayakan interpretasi ulang dalam mengkaji teks-teks fikih
untuk mencari konteks baru, (ii) makna bermazhab secara tekstual (mazhab qault) ke bermazhab secara metodologis (mazhab manhaji); (iii) verifikasi mendasar mana ajaran yang pokok (uslul) dan mana yang cabang (furu’);
(iv) fikih dihadirkan sebagai etika sosial, bukan sebagai hukum positif
negara, dan (v) pengenalan metodologi pemikiran filosofis terutama
dalam masalah budaya dan sosial (hlm. 100).
***
BUKU yang membicarakan aktivitas anak muda seperti itu boleh dibilang
relatif langka. Terlebih jika menyangkut studi dan kajian progresifnya.
Untuk itulah, Gejolak Santri Kota ini menjadi menarik untuk dikritisi. Terlebih, kalangan NU yang haus akan perubahan.
Sebagai sebuah buku yang mengkritisi jejak aktivitas anak muda NU
(semacam runutan antropologis) dan dihasilkan melalui “proses ilmiah” di
pascasarjana UGM; maka pantas menjadi wacana dalam “tradisi pemikiran”
kalangan NU utamanya, dan pada generasi muda Indonesia umumnya.
Dalam sampul buku itu tampaknya sepasang kelompen (bakiak)
tercecer dalam posisi menuju ke arah pembacanya. Rupanya sang pemilik
sudah melupakan alas kaki itu, atau memang sudah ganti alas kaki, karena
jalan lain tidak mungkin ditapaki dengan alas kaki tersebut.
Akhirnya, di sinilah urgensi buku kecil ini mengambil peran:
pemberontakan pemikiran dan reinterpretasi ulang terhadap kemapanan
pemikiran NU. Gerakan dan pembaharuan dengan representasi AMNU LKIS
menawarkan semacam pemikiran “individualisme” dalam pengertian Berger
dan Luckman, yakni individual autonomy, atau yang disebut oleh Leonard Binder dengan Islamic Liberalisme (hlm. 119).
Buku ini menjadi semacam otokritik bagi NU, dan sekaligus tempat
bersemai harap pada generasi muda NU yang lebih berdaya di masa datang.
Karena itu, siapa pun yang berminat mengetahui gerak dinamis anak-anak
muda NU, sudah sepantasnya tidak melewatkan buku ini.
*) Sutedjo, Ketua Umum ISNU Cabang Ponorogo/mahasiswa pascasarjana UNS Surakarta.
Dijumput dari: http://sastra-indonesia.com/2012/12/pemikiran-santri-kota/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
Afifah W. Zhafira
Afifah Wahda Tyas Pramudita
Andry Deblenk
Anugerah Ronggowarsito
Apresiasi Prosa (Mencari Nilai. Memahami Fiksi)
Apresiasi Puisi (Memahami Isi Mengolah Hati)
Berita
Budaya
Cara Mudah PTK (Mencari Akar Sukses Belajar)
Catatan
Cerpen
Cover Buku
Djoko Saryono
Esai
Filsafat Ilmu
Gatra
Gerakan Literasi Nasional
Gufron Ali Ibrahim
Happy Susanto
Inspiring Writer (Rahasia Sukses Para Penulis Inspirasi untuk Calon Penulis)
Jurnalistik 2 (Kiat Menulis Resensi. Feature dan Komoditas Lainnya)
Jurnalistik Plus 1 (Kiat Merentas Media dengan Ceria)
Kajian Prosa (Kiat Menyisir Dunia Prosa)
Kajian Puisi (Teori dan Aplikasinya)
Karya Darma
Kasnadi
Kliping
Kompas
Literasi
Literasi Budaya
Majalah Dinamika PGRI
Makam Sunan Drajat
Masuki M. Astro
Memasak
Menemukan Profesi dengan Mahir Berbahasa
Menulis Kreatif (Kiat Cepat Menulis Puisi dan Cerpen)
Merdeka
Mesin Ketik
Metafora Kemahiran Menulis
Nur Wachid
Nurel Javissyarqi
Obrolan
Orasi Ilmiah
Ponorogo Pos
Prof Dr Soediro Satoto
Puisi
Radar Madiun
Resensi
S. Tedjo Kusumo
SMA 1 Badegan Ponorogo
STKIP PGRI Ponorogo
Sajak
Sapta Arif Nurwahyudin
Sekolah Literasi Gratis
Senarai Motivasi
Senarai Pemikiran Sutejo (Menyisir Untaian Kata. Menemukan Dawai Makna)
Seputar Ponorogo
Sidik Sunaryo
Soediro Satoto
Solopos
Sosiologi Sastra (Menguak Dimensionalitas Sosial dalam Sastra)
Spectrum Center
Stilistika (Teori. Aplikasi dan Alternatif Pembelajarannya)
Suara Karya
Sugiyanto
Sujarwoko
Sumarlam
SuperCamp HMP 2017
Surabaya Post
Surya
Sutejo
Suwardi Endraswara
Swadesi
Teknik Kreativitas Pembelajaran
Tengsoe Tjahjono
Tri Andhi S
Wisata
Workshop Entrepreneurship
Workshop Essay Budaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar