Sutejo
Gaya. Ilmunya adalah stilistika. Dalam beretorika, bersastra, dan berbahasa, itulah hakikatnya. Komunikasi yg stilistik tentunya menjadi komunikasi yg unik, khas, dan mempribadi. Membeda.
Orang seringkali menggunakanannya dalam komunikasi umum, pidato, jurnalisme sastrawi, menulis, fiksi, nonfiksi, atau apapun komunikasi tulis dan lisan. Sehingga komunikasi yg dipilihnya bernas, bergaya, dan membeda.
Aku mencintaimu dengan kesederhanasnku agar mereka tahu di situlah hakikatnya. Cinta itu sederhana. Tak pura-pura, apalagi bernafsu --berlebihan yg tak memanusiakan. Tadi ketika mengajar Stilistika aku bertanya pada sejumlah mahasiswa, "Apa yang mematikanmu di dalam hidup?"
Tujuh orang mahasiswa yg saya tanya, empat diantaranya menjawab: cinta. Sangat absurd, sebab cinta mestinya menghidupkan, kok mematikan. Mungkin itu gaya pengungkapan, pemahaman, dan pemaknaan yg salah atas cinta. Cinta itu rahmah. Bukan nafsu. Nafsu mestinya hanya percikan api yang harus bisa dikelola dengasn "sempurna".
Membeda itu penting. Menjadi pembeda pun sungguh penting. Di situlah keragaman dan keunikan hidup tercipta. Asyik, meragam, dan memesona. Ayo berani membeda diri dengan style yang memberarti.
21.18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar