Tampilkan postingan dengan label S. Tedjo Kusumo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label S. Tedjo Kusumo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Oktober 2018

Tali Setia itu di Mana?

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Perahu?
Adalah kisah guru dalam sebuah pelayaran panjang, tahun 1990-an. Sepasang guru yang berdinas nun jauh di ujung timur Indonesia, berniat pulang ke kota di mana dia dilahirkan. Cinta diukir di pulau rantau, dikhianati di pelayaran, dan di akhiri 15 tahun kemudian. Mengapa berakhir? Tali setia tetnyata begitu rapuh untuk dilekatkan. Ditawafkan.

Cinta Seorang Darwis

Cerpen: S. Tedjo Kusumo
...
Mbah, buktikan kepadaku jika cinta itu ada! Kata seorang perempuan sambil marah. Lelaki yg dipanggil Mbah, hanya diam. Dalam. Menengok langit masih ada bekas rembulan dan satu dua bintang.
"Itulah cinta." jawabnya sambil menunjuk bayang bayang rembulan.

Api di Jenggot Zainal

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Pagi ini, takdir mempertemukan aku dengan lelaki gendut, berjenggot lebat: Zainal. Sorot matanya tenang, terbiar atas segala hal. Tak membutuhkan apapun, katanya. Tetapi dia masih ngurus BKD dan pajak motor. Artinya, Zainal butuh sesuatu.

Bagaimana Aku Mencintaimu

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Di bawah pohon ringin itu, kau tanyakan bagaimana aku mencintaimu. Pohon itu teduh. Besar dan perkasa di tengah aloon-aloon. Sepuluh tahun yang lalu. Sebelum kota kita begitu materialis dan hedonis. Aku akan melihat tajam bola matamu. Bulat hitam matamu utuh menyentuh hatiku.

Goda Janda di Kota Suci

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Tawaf adalah putaran suci yang mestinya tak terkotori oleh goda, canda, bahkan dosa rasa sesama manusia. Ia adalah perjalanan jiwa, pendakian yang menggetarkan, memesona. Rumah impian setiap manusia untuk menemukan hakikat diri, magnet suci, dalam kumparan magis gerak lari kecil mengitari Ka'bah.

Menggunting Langit

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Sunarti adalah gadis desa yang malang. Ia korban pemerkosaan teman-teman kekasihnya. Dia tidak mengerti, mengapa kekasihnya tega melihat kawan-kawannya menikmati tubuhnya. Dia membenci. Kala itu, senja menyaputi tepian punggung hutan. Dan, di salah satu sisi hutan itulah peristiwa itu terjadi. Lima orang pemuda desa atas nama ketertiban memerkosa Sunarti di depan kekasihnya. Itulah drama pertama duka kegadisannya. Padahal, lima pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah teman tetangga desa kekasihnya.
***

Perempuan Pemburu Bayang

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Aku kasihan melihat perempuan itu. Di usianya yang tak muda lagi, masih hobi mengejar bayangan. Bukankah bayangan tak mungkin direngkuh? Kaki wajib berinjak dan menapak di lapak yang tegak. Itulah lapak realita, bukan bayangan. Apalagi, ayang-ayang. Sering ia menunjuk langit, menumpahkan kekesalannya, untuk merengkuh rasa puasnya.

Lelaki yang Bersahabat Makam

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Awalnya, lelaki itu takut makam. Apalagi, di masa kecil cerita tentang makam, orang mati, dan mistifikasi lainnya tentang kuburan berseliweran tak terhitung jumlah dalam ingatannya. Sampai pada suatu waktu, di masa kecil, ia trauma akan makam. Tersebab, hal gaib yang mengiringi pemakaman tetangganya, baik saat sakit, kematian, apalagi pasca pemakaman. Menakutkan!

Panah di Tubuh Lelaki Petualang

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Tubuh lelaki itu atletis, tinggi besar, gagah, dan segar wajahnya. Bibirnya selalu tersenyum. Rambut lurus, selalu pendek, dan rapi. Apalagi ia seorang pendekar perguruan yang disegani di desanya. Di situlah, bermuara harapan para gadis, tapi di situ pulalah petaka neraka para wanita. Dia seperti memasang panah mematikan kepada para gadis yang mendekatinya, yang didekatinya.

Luka Menggantung di Bibir Dosenku

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Malang nian dosenku. Seumur hidupnya ia melajang. Perjaka hingga di ujung usia. Ia ingin buktikan pada kekasihnya, bahwa itulah persembahan terindah: meninggal dengan memeluk suci cinta. Biarkan perempuan yang mengkhianati --yang juga dosen itu-- membaca sendiri teks gaib dalam sejarah langit yang hanya bisa terbaca bersama, nanti. Dosen luka itu meninggal dengan tersenyum. Luka yang indah, bahagia atas luka.
***

Penunggu Pamujan

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Anak pujan. Kau tak pernah memyang to menjadi anak pujan? Surati adalah anak pujan. Ia lahir berkat permohonan terhadap penghuni tempat wingit. Tak heran, Surati di masa bayi --sungguh mengalami berbagai keunikan. Sering rewel yang berlebihan, menangis tak keluar air mata, mata tajam aneh, keras kepala, dan beragam keunikan lainnya. Surati kecil menjadi anak manja, rewel, susah diatur, ....

Latahnya Malam

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Malam 01.58. Di depanku, terduduk seorang lelaki perlenta. Kaos sulak putih dengan bulat bulat merah. Sambil makan, ia terus ngoceh saja dengan seorang petempuan di balik gadget. Siapakah, apakah, dan ada hubungan bagaimana, aku menduga-duga. Hem. Begitu asyiknya ia. Hingga wajahnya penuh aura bahagia.

Bocah Perindu Ayah

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Ayahku bukanlah ayahku. Begitulah tiba-tiba, spontan kalimat yang muncul dari seorang lelaki kecil ketika kutanya. Ayahku bukan ayahku? Akukah? Aku jadi tergoda dengan kalimat bocah itu. Bocah ingusan yang hanya mengerti setiap hari adalah permainan gadget atau ipad. Sejak usia dua tahun, dia sudah begitu akrab. Bahkan ketika ibunya kesulitan menenangkan tangisannya, si ibu mengulurkan benda modern itu sebagai ganti hiburannya. Itu dulu, sebelum ibu meninggalkannya karena alasan ekonomi yang diperjuangkannya.

Lelaki Penunggu Telaga

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Dari manakah munculnya kesadaran bagi seseorang ketika telah kehilangan akal sehat dalam hidupnya? Itulah kalimat yang menakutkan bagi Sadar, lelaki yang merindu telaga. Karena itu, ia sudah sepuluh tahun berkhusuk untuk menjaga telaga dari segala goda manusia. Telaga baginya, sumber mata air dan mata air hidup yang wajib diperjuangkan dengan segala kekuatan. Telaga kehidupan bagi keluarga, tentu berbeda lagi.

Jalan Sunyi Seorang Suami

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Menjadi suami, ternyata tidak gampang. Paling tidak, itulah yang disadari Martadi selama 50 tahun menikah. Usia pernikahan emas. Martadi hanyalah lelaki sederhana, pegawai menengah, dan tak memiliki keberanian ekstra untuk bermain-main. Ia boleh dibilang pendiam. Yang ditahu kawan-kawannya, dia suka ke makam-makam, masjid tua yang bersejarah, dan silaturahmi hati dengan tawasul.

Dialog Ruang

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Kamar bagiku adalah dialog ruang. Tempat partikel energi yang saling berdialog dan tarik-menarik. Tapi bagaimana dengan kamar kosong? Ruang kosong di mana ruang-ruang jiwa yang rumpang menjadi dialog sepi yang abadi? Menjelma permainan langit dengan seribu ornamen misterius. Mencintai ruang kosong dengan seribu luka adalah teluh cinta atas nama ketakdiran yang menakutkan.

Lelaki Belia

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Dia adalah anak lelaki yang lepas dari gendhongan. Tak terasuh oleh sutera lembut tangan ibu. Dia diasuh malam, juga gadset. Melihatnya, ada trenyuh yang dalam. Hingga ke dasar. Bayangkanlah, usia SMP kelas dua dia sudah menggauli pacar-pacarnya berganti. Sebuah sorot luka seorang ayah yang terhina karena dia disanjung ibu dengan harta. Ibunya TKW Hongkong.

Lelaki yang Menikahi Sepi

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Aku tak menyangka jika lelaki yang kukenal (juga dikenal) humoris, rileks, dan disegani itu menyimpan segudang masa lalu yang tak menyenangkan. Sampai kini, dia sering memintal kesepian untuk melepas lelah, pagut luka-duka hidup --yang bersumber dari apa.

Lelaki Berbau Besi

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Nenek itu menangis. Banjir air matanya membasahi entrok yang dikenakannya. Entrok hitam dengan galur kecokelatan. Setengah keriput. Seperti wajah perempuan tua itu yang 100 persen dipenuhi keriput. Dia baru saja dapat kabar dari anaknya, bahwa cucunya yang kini berusia 55 tahun kena OTT KPK. "Siapa yang ingin punya cucu dan anak sekaligus seorang koruptor?" Protesnya kepada anak laki-lakinya, ya satu satunya. Anaknya sendiri 10 tahun lalu, juga tersangkut masalah korupsi. Baru setahun lalu dia keluar dari penjara.

Perempuan yang Merindu Hangat Matahari

Cerpen: S. Tedjo Kusumo

Rindu, katamu, adalah ketakutan dalam kelumpuhan. Begitu kauucapkan itu, pada suatu malam purnama, aku ingat puisi WS Rendra. Kangen. ... /Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan./.../Jika aku dalam kangen dan sepi/ itulah berarti/ aku tungku/ tanpa api//. Aku berkata lirih sambil merebahkan bahu kananmu di pundakku. "Salahkah aku mencintaimu, Matahari?"

Label

Afifah W. Zhafira Afifah Wahda Tyas Pramudita Andry Deblenk Anugerah Ronggowarsito Apresiasi Prosa (Mencari Nilai. Memahami Fiksi) Apresiasi Puisi (Memahami Isi Mengolah Hati) Berita Budaya Cara Mudah PTK (Mencari Akar Sukses Belajar) Catatan Cerpen Cover Buku Djoko Saryono Esai Filsafat Ilmu Gatra Gerakan Literasi Nasional Gufron Ali Ibrahim Happy Susanto Inspiring Writer (Rahasia Sukses Para Penulis Inspirasi untuk Calon Penulis) Jurnalistik 2 (Kiat Menulis Resensi. Feature dan Komoditas Lainnya) Jurnalistik Plus 1 (Kiat Merentas Media dengan Ceria) Kajian Prosa (Kiat Menyisir Dunia Prosa) Kajian Puisi (Teori dan Aplikasinya) Karya Darma Kasnadi Kliping Kompas Literasi Literasi Budaya Majalah Dinamika PGRI Makam Sunan Drajat Masuki M. Astro Memasak Menemukan Profesi dengan Mahir Berbahasa Menulis Kreatif (Kiat Cepat Menulis Puisi dan Cerpen) Merdeka Mesin Ketik Metafora Kemahiran Menulis Nur Wachid Nurel Javissyarqi Obrolan Orasi Ilmiah Ponorogo Pos Prof Dr Soediro Satoto Puisi Radar Madiun Resensi S. Tedjo Kusumo SMA 1 Badegan Ponorogo STKIP PGRI Ponorogo Sajak Sapta Arif Nurwahyudin Sekolah Literasi Gratis Senarai Motivasi Senarai Pemikiran Sutejo (Menyisir Untaian Kata. Menemukan Dawai Makna) Seputar Ponorogo Sidik Sunaryo Soediro Satoto Solopos Sosiologi Sastra (Menguak Dimensionalitas Sosial dalam Sastra) Spectrum Center Stilistika (Teori. Aplikasi dan Alternatif Pembelajarannya) Suara Karya Sugiyanto Sujarwoko Sumarlam SuperCamp HMP 2017 Surabaya Post Surya Sutejo Suwardi Endraswara Swadesi Teknik Kreativitas Pembelajaran Tengsoe Tjahjono Tri Andhi S Wisata Workshop Entrepreneurship Workshop Essay Budaya

Sutejo, Sang Motivator

Maman S Mahayana, Sutejo, Kasnadi di Jakarta

Sutejo & Hamsad Rangkuti di Jakarta

Sutejo dan Danarto di Jakarta

Maman S Mahayana di STKIP PGRI Ponorogo