Sutejo
Maafkan status ini, tiba-tiba saja. Alur alirnya muncrat begitu saja setelah dua hari puasa media. Hehe. Trus berpuisi ria.
Aku pura-pura jadi penyair, biar dianggap penyair. Xixi. Ah, begitulah kira-kira, toh cerpen dan puisi misalnya, adalah dunia pura-pura (tak nyata, imajinatif).
Eh, pembaca sebenarnya, pura-pura, kata seseorang kmarin yang cerita begitu semangat, adalah musuh terbesar dalam keluarga, masyarakat, profesi, dan bangsa. Hayo.... Pura-pura bekerja tetapi tak melakukan apa-apa. Padahal, prinsip modern itu berbasis produk, hasil, out put jelas. Tetapi, marilah tengok dunia kerja kita? Pura-pura kerja. Dunia profesi pun seringkali pura-pura juga. Pura-pura pembelajar dengan aforisme dahsyat, tetapi sesat karena tanpa lelaku dan hati. Apalagi, parahnya, bersahabat dengan kura-kura dalam perahu tentang hakikat belajar dan bekerja.
Mengajar misalnya adalah proses belajar, mengenalkan cara belajar, dan bagaimana hakikat ilmu dikejar. Mengapa. Bukan pura-pura mengajar tanpa pijar pemandu dalam seluruh aktivitas belajar. Pura-pura tahu dalam berilmu, sungguh berbahaya. Itulah pesan-pesan Orang Gila yang memukul batok kepalaku.
Wah, lelaki pembual ini --mirip Ajo Sidi dalam Robohnya Surau Kami karya AA. Navis. Suka ngaco dang ngritik pedas. Jujur dan vulgar.
Pura-pura lanjutnya dengan tetap semangat adalah dunia pertarungan dengan seribu simbol, perayaan, kerumunan, kegiatan, dan entah. Hidup jadi pertarungan simbol, perlombaan perayaan, kerumunan maya, dan kegiatan semu. Menusuk siapapun kita untuk menengok kembali bagaimana kita sudah menjadi aktor panggung sandiwara secara nyata.
Pura-pura lanjutnya dengan tetap semangat adalah dunia pertarungan dengan seribu simbol, perayaan, kerumunan, kegiatan, dan entah. Hidup jadi pertarungan simbol, perlombaan perayaan, kerumunan maya, dan kegiatan semu. Menusuk siapapun kita untuk menengok kembali bagaimana kita sudah menjadi aktor panggung sandiwara secara nyata.
Akhirnya, lelaki konyolvitu pun lelah sambil mengakhiri --kira-kira dalam bahasaku begini: "7
Pura-pura hanyalah pelarian demi pelarian, pengejaran demi pengejaran sesungguhnya tentang hakikat keberadaan matahari dan rembulan. Rembulan jujur dengan keterbatasan, bahwa cahayanya tak mampu membelah atau menyulap kegelapan. Beda dengan matahari. Maka, pura-pura menjadi matahari akan terbakar tubuh sendiri.
Pura-pura hanyalah pelarian demi pelarian, pengejaran demi pengejaran sesungguhnya tentang hakikat keberadaan matahari dan rembulan. Rembulan jujur dengan keterbatasan, bahwa cahayanya tak mampu membelah atau menyulap kegelapan. Beda dengan matahari. Maka, pura-pura menjadi matahari akan terbakar tubuh sendiri.
06.43
Tidak ada komentar:
Posting Komentar