Kamis, 30 Agustus 2018

Pura-pura

Sutejo

Maafkan status ini, tiba-tiba saja. Alur alirnya muncrat begitu saja setelah dua hari puasa media. Hehe. Trus berpuisi ria.
Aku pura-pura jadi penyair, biar dianggap penyair. Xixi. Ah, begitulah kira-kira, toh cerpen dan puisi misalnya, adalah dunia pura-pura (tak nyata, imajinatif).

Eh, pembaca sebenarnya, pura-pura, kata seseorang kmarin yang cerita begitu semangat, adalah musuh terbesar dalam keluarga, masyarakat, profesi, dan bangsa. Hayo.... Pura-pura bekerja tetapi tak melakukan apa-apa. Padahal, prinsip modern itu berbasis produk, hasil, out put jelas. Tetapi, marilah tengok dunia kerja kita? Pura-pura kerja. Dunia profesi pun seringkali pura-pura juga. Pura-pura pembelajar dengan aforisme dahsyat, tetapi sesat karena tanpa lelaku dan hati. Apalagi, parahnya, bersahabat dengan kura-kura dalam perahu tentang hakikat belajar dan bekerja.
Mengajar misalnya adalah proses belajar, mengenalkan cara belajar, dan bagaimana hakikat ilmu dikejar. Mengapa. Bukan pura-pura mengajar tanpa pijar pemandu dalam seluruh aktivitas belajar. Pura-pura tahu dalam berilmu, sungguh berbahaya. Itulah pesan-pesan Orang Gila yang memukul batok kepalaku.
Wah, lelaki pembual ini --mirip Ajo Sidi dalam Robohnya Surau Kami karya AA. Navis. Suka ngaco dang ngritik pedas. Jujur dan vulgar.
Pura-pura lanjutnya dengan tetap semangat adalah dunia pertarungan dengan seribu simbol, perayaan, kerumunan, kegiatan, dan entah. Hidup jadi pertarungan simbol, perlombaan perayaan, kerumunan maya, dan kegiatan semu. Menusuk siapapun kita untuk menengok kembali bagaimana kita sudah menjadi aktor panggung sandiwara secara nyata.
Akhirnya, lelaki konyolvitu pun lelah sambil mengakhiri --kira-kira dalam bahasaku begini: "7
Pura-pura hanyalah pelarian demi pelarian, pengejaran demi pengejaran sesungguhnya tentang hakikat keberadaan matahari dan rembulan. Rembulan jujur dengan keterbatasan, bahwa cahayanya tak mampu membelah atau menyulap kegelapan. Beda dengan matahari. Maka, pura-pura menjadi matahari akan terbakar tubuh sendiri.
06.43

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

Afifah W. Zhafira Afifah Wahda Tyas Pramudita Andry Deblenk Anugerah Ronggowarsito Apresiasi Prosa (Mencari Nilai. Memahami Fiksi) Apresiasi Puisi (Memahami Isi Mengolah Hati) Berita Budaya Cara Mudah PTK (Mencari Akar Sukses Belajar) Catatan Cerpen Cover Buku Djoko Saryono Esai Filsafat Ilmu Gatra Gerakan Literasi Nasional Gufron Ali Ibrahim Happy Susanto Inspiring Writer (Rahasia Sukses Para Penulis Inspirasi untuk Calon Penulis) Jurnalistik 2 (Kiat Menulis Resensi. Feature dan Komoditas Lainnya) Jurnalistik Plus 1 (Kiat Merentas Media dengan Ceria) Kajian Prosa (Kiat Menyisir Dunia Prosa) Kajian Puisi (Teori dan Aplikasinya) Karya Darma Kasnadi Kliping Kompas Literasi Literasi Budaya Majalah Dinamika PGRI Makam Sunan Drajat Masuki M. Astro Memasak Menemukan Profesi dengan Mahir Berbahasa Menulis Kreatif (Kiat Cepat Menulis Puisi dan Cerpen) Merdeka Mesin Ketik Metafora Kemahiran Menulis Nur Wachid Nurel Javissyarqi Obrolan Orasi Ilmiah Ponorogo Pos Prof Dr Soediro Satoto Puisi Radar Madiun Resensi S. Tedjo Kusumo SMA 1 Badegan Ponorogo STKIP PGRI Ponorogo Sajak Sapta Arif Nurwahyudin Sekolah Literasi Gratis Senarai Motivasi Senarai Pemikiran Sutejo (Menyisir Untaian Kata. Menemukan Dawai Makna) Seputar Ponorogo Sidik Sunaryo Soediro Satoto Solopos Sosiologi Sastra (Menguak Dimensionalitas Sosial dalam Sastra) Spectrum Center Stilistika (Teori. Aplikasi dan Alternatif Pembelajarannya) Suara Karya Sugiyanto Sujarwoko Sumarlam SuperCamp HMP 2017 Surabaya Post Surya Sutejo Suwardi Endraswara Swadesi Teknik Kreativitas Pembelajaran Tengsoe Tjahjono Tri Andhi S Wisata Workshop Entrepreneurship Workshop Essay Budaya

Sutejo, Sang Motivator

Maman S Mahayana, Sutejo, Kasnadi di Jakarta

Sutejo & Hamsad Rangkuti di Jakarta

Sutejo dan Danarto di Jakarta

Maman S Mahayana di STKIP PGRI Ponorogo