Sutejo
Kata ini tiba-tiba memukul kepalaku. Keras! Seperti godam nyasar. Bayangkan, akhir-akhir ini berita miring pelajar SMP, mengajar nalar wajar. Seorang pengusaha, di langgar, tiba-tiba bercerita tentang "pesta cinta" puluhan pelajar SMP. Hulu hilir akar soalnya, tak berujung, tak berpangkal.
Di manakah sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat? Ketika aku kecil, begitu banyak orang berpesan tentang moralitas, perilaku, saat bertemu. Entah itu di pasar, warung pecel, ladang, sawah, dan di tempat cengkerama yg tiba-tiba. Apalagi, di rumah. Petuah dan pesan indah berkelabatan di mana-mana.
Sekarang, tak ada lagi. Aku sering mengingatkan --siapapun yamg di dekatku-- tak urung dinilai miner. Aduh. Dunia apakah kini? Ketika hidup dipenuhi dengan kepalsuan: senyum palsu, kata palsu, bahkan cinta palsu.
Bahkan, sekolah palsu, nilai palsu. Lalu?
Bahkan, sekolah palsu, nilai palsu. Lalu?
Di manakah, oase rindu spiritualitas ketika kata palsu berkejaran di mana-mana, ke mana-mana. Bahkan, di ruang suci sekalipun, tak jarang terhinggapi kepalsuan. Tuhan maha Murah atas segala salah.
Jangan-jangan, yang nulis status ini juga palsu. Dosen palsu, penulis palsu, atau ... Aku berlindung dari baha kepalsuan, sejak geliat niat, apalagi yangbkuoerbuat. Tuhan, kurangi dan enyahkan, meski begitu pelan aroma kepalsuan itu.
Amin.
Mari belajar dari ketulusan kucing. Di tengah kekurangannya, ia bersetia atas nama cinta. Menghidupkan dan menggerakkan anak cemengnya.
22.53
Tidak ada komentar:
Posting Komentar